Get Adobe Flash player
Heriadi al hifni 16 Maret 2010 0 komentar Label:

BAB I
PENDAHULUAN
Pertama marilah kita panjatkan puji dan syukur atas kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan Taufik dan Hidayah-Nya sehingga saya pribadi dapat melaksanakan ataupun menyelesaikan laporan studi lapangan ini melalui proses yang panjang.
Acara studi lapangan ini adalah acara yang rutin dilakukan bagi semua siswa dan siswi kelas XII MAN Kelua. Kegiatan studi lapangan ini ditujukan sebagai persyaratan untuk menjadi peserta dalam Ujian Akhir Nasional (UAN) atau Ujian Akhir Sekolah (UAS).
Dalam studi lapangan ini kami mengunjungi beberapa lokasi antara lain : Makam Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari, Makam KH. Zaini bin Abdul Ghani, Museum LambungMangkurat, Balai Diklat, Jembatan Barito, Mesjid Raya Sabilal Muhtadin, Duta Mall Banjramasin, Mesjid Al-Karamah Martapura.
Akhirnya saya berharap semoga hasil laporan ini bisa diterima dengan baik dan dapat bermanfaat bagi kita semua. Amin Yaa Rabbal Alamin.

BAB II
ISI LAPORAN
A. PERJALANAN AWAL KEBERANGKATAN
Pada tanggal 6 dan 7 januari 2010, Madrasah Aliyah Negeri Kelua mengadakan sebuah kegiatan yang mengikut sertakan semua pelajarnya. Pada hari pertama kami berangkat dari sekolah menuju beberapa tempat wisata. Pada pukul 07:00 kami sudah harus berada di sekolah, begitulah menurut jadwal yang telah ditentukan dan perjalanan akan dimulai pukul 07:30. Tetapi karena keadaan cuaca yang saat itu sedang hujan maka rencana pun tertunda beberapa jam. Ditambah juga karena mobil yang dicerter tidak tepat waktu datangnya ke sekolah kami. Perjalan dimulai sekitar pukul 08:30, kami menempati mobil dengan nomor 1. Beberapa menit setelah melakukan perjalan, kami singgah di Telaga Itar tepatnya di rumah Bapak Rafiq untuk mengambil makanan. Berhubung waktu itu makanan yang dipesan di Sei Durian belum siap, maka salah satu mobil dari rombongan kami mengambil makanan tersebut ke rumah si pembuat. Perjalanan pun dilanjutkan menuju tempat pertama yakni makam Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari di Kelampayan, Kabupaten Banjar.




B. LOKASI-LOKASI YANG DIKUNJUNGI
1. Makam Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari di Kelampayan
Pada pukul 12:30 kami tiba di komplek makam Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari di Kelampayan. Ternyata kedatangan kami di sana merupakan yang pertama. Sesampai di sana, kami di iringi oleh anak-anak kecil yang mengemis dan ibu-ibu yang menjajakan bunga. Setelah berwudhu, kami pun langsung masuk ke makam Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari dan Makam KH. Zainal Ilmi. Di sana kami berziarah, setelah berdoa di sana, sebagian dari teman saya ada yang berfoto-foto.
Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari, Ulama besar dari Kalimantan Selatan. Nama Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari hingga kini masih melekat di hati masyarakat Martapura, Kalimantan Selatan, meski putra Banjar kelahiran Desa Lok Gabang, 19 Maret 1710 M, itu telah meninggal sejak 1812 M silam. Beliau meninggalkan banyak jejak dalam bentuk karya tulis di bidang keagamaan. Karya-karyanya bak sumur yang tak pernah kering untuk digali hingga generasi kini. Tak mengherankan bila seorang pengkaji naskah ulama Melayu berkebangsaan Malaysia Menjulukinya sebagai ‘Matahari Islam Nusantara’. ‘Matahari’ itu terus memberikan pencahayaan bagi kehidupan umat Islam.
Setelah selesai berziarah, kami pun melaksanakan shalat fardhu yang dijama’ qashar. Setelah selesai shalat, kami makan siang di dalam mobil. kemudian perjalanan pun dilanjutkan ke Makam KH. Zaini Bin Abdul Ghani atau yang lebih sering dikekenal dengan nama Guru Sekumpul.

2. Makam KH. Zaini Bin Abdul Ghani di Sekupul, Martapura
Setelah berziarah di makam Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari, kami melanjutkan perjalanan ke makam Ulama Kharismatik yang bernama KH. Zaini Bin Abdul Ghani atau yang juga kita kenal dengan nama Guru Sekumpul. Beliau lahir di Tungul Irang, Dalam Pagar, Matapura pada malam rabu 27 muharram 1361 H bertepatan dengan 11 februari 1942 M. Beliau wafat pada hari rabu tanggal 10 agustus 2005 jam sepuluh pagi pada usia yang sama dengan Rasulullah SAW yakni 63 tahun. Kami tiba di Sekumpul sekitar pukul 14:50, setibanya di sana kami membeli serangkai bunga untuk diletakkan di samping pagar makam. Setelah masuk ke dalam pagar dari pemakaman kami langsung berwudhu supaya ziarah kami menjadi sempurna. Setelah selesai membaca Surah Yaasin kami berdo’a dan kemudian masuk ke Langgar Ar-Raudhah. Setelah puas melihat-lihat tempat di sana kami pun kembali menuju mobil untuk melanjutkan perjalanan ke Museum Lambung Mangkurat.
3. Museum Lambung Mangkurat
Ketika pertama kali menginjakkan kaki di halaman Museum Lambung Mangkurat yang letaknya ada di jalan A. Yani Km. 35 Banjarbaru, kami disambut ramah oleh satpam yang menjaga pintu gerbang. Ketika kami ingin masuk ke dalam museum, kami langsung saja dipotret-potret oleh seorang fotografer yang ingin mencari uang dari hasil pengambilan foto atau lebih seing dikenal dengan sebutan paparaji. Kami pun langsung masuk ke dalam ruangan museum dari lantai dua. Di sana banyak sekali barang- barang bernilai sejarah yang tinggi dan antik, misalnya: miniatur rumah banjar, alat-alat penangkap ikan, alat-alat menangkap unggas, batu-batu, replika kerbau di sawah, kelambu pengantin, kitab karangan makam Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari, di sana juga ada sebuah Al Qur’an yang ukurannya besar dan itu merupakan hasil tulisan tangan Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari. Benda-benda lain yang ada di Museum Lambung Mangkurat anatara lain :
a. Meriam
Meriam merupakan senjata untuk menembakkan sebuah peluru besar yang berasal dari Eropa. Benda ini telah dibawa masuk ke Indonesia oleh orang-orang Eropa untuk mendukung kekuatan dagang VOC, Portugis dan Pemerintahan Hindia-Belanda. Sebagian meriam itu diserahkan kepada orang-orang pribumi yang mendukung kekuatan asing tersebut. Sebagiannya direbut paksa oleh pribumi yang menentang kekuasaan mereka. Ada juga meriam yang ditinggalkan setelah Belanda menyerah dan Negeri kita merdeka.
Meriam ini merupakan peninggalan dari Museum Banjar yang bubar karena tidak ada pengelolaan yang baik. Benda-benda tersebut berasal dari berbagai tempat temuan di Kalimantan Selatan.
b. Mata Pencaharian dan Teknologi Tradisional
Sumberdaya alam yang kaya di Kalimantan Selatan, mendorong berbagai teknologi dan mata pencaharian tradisional berupa budidaya, eksploitasi, serta pengolahan hasil, antara lain :
- Mendulang intan
- Menenun
- Kerajinan alat dari kuningan
- Kerajinan emas
- Meramu rotan
- Pengolahan gula aren
- Peternakan kalang hadangan (kerbau Rawa)
- Pandai besi
- Pertanian padi sawah tadah hujan dan sawah pasang surut
- Menangkap ikan
- Kerajinan anyaman bambu, rotan, dan jangng.
- Kerajinan hias bordir.
Setelah melihat-lihat dan memoto di lantai 2. Saya pun turun ke bawah dan ternyata di halaman depan banyak teman-teman saya yang asyik berpoto. Saya pun juga ikut berfoto di sana. Di halaman depan museum juga ada terdapat benda-benda peninggalan sejarah seperti meriam, perahu, dan sebuah jangkar kapal yang ukurannya sangat besar.
Seusai berfoto di luar gedung museum, kami pun masuk lagi ke bagian museum di lantai dasar. Dari depan pintunya terdapat tiga buah benda miniatur candi Borubodur dan Prambanan serta tulang ikan paus yang sangat besar.
Ketika memasuki lantai dasar dari bangunan museum yang berbentuk rumah adat Banjar terdapat berbagai tulang yang juga ukurannya besar. Ternyata setelah melihat-lihat benda di lantai dasar adalah benda-benda peninggalan sejarah pada zaman penjajahan, alat musik gamelan, meriam dan lain-lain. Hanya beberapa menit saya berada di dalam museum, kemudian kami menuju ke luar komplek meseum, kami di foto lagi oleh paparaji tadi. Di parkiran mobil, kami berfoto bersama dengan guru pendamping kami yaitu Bapak Alfi Khairian dan Bapak H. Saifur Rafiq. Setelah hal tersebut, kami pun berangkat meninggalkan museum dan menuju ke Balai Diklat.
4. Balai Diklat
Dalam perjalanan menuju Balai Diklat, kami sudah merasa kelelahan. Baru beberapa menit dari Museum, mobil rombogan kami singgah di sebuah tempat percetakan digital untuk memasang sebuah stikker calon gubernur di kaca belakang mobil. Setelah memasang stikker itu, supir diberi uang oleh orang yang memasangkan stikker tadi. “Lumayan sih” kata supir mobil nomer 1.
Kami tiba di Balai Diklat sekitar pukul 17:00. Setibanya di sana, kami turun dari mobil dan langsung menuju sebuah bangunan yang terletak paling belakang dari Balai Diklat ini. Nama bangunan yang kami tempati yaitu “YAKUD”. Kami menempati kamar bernomor 21 di lantai dua.
Setelah meletakkan barang-barang, saya langsung berganti pakaian untuk mandi, tapi ternyata airnya lagi macet. Kami pun turun ke bawah untuk mencari kamar mandi yang banyak airnya. Setelah beberapa lama mencari air untuk mandi, akhirnya saya dan teman saya menemukan sebuah kamar mandi dekat Mushalla. Setelah selesai mandi, kami kembali ke kamar dan kemudian turun lagi untuk melihat-lihat lingkungan Balai Diklat ini. Di sini ada beberapa bangunan untuk ditempati, mulai dari yang cuma berlantai satu sampai berlantai tiga. Ada juga mushalla, lapangan footsal, dan sebuah bangunan yang menyimpan miniatur Balai Diklat. Ketika adzan magrib hampir berkumandang, kami mengambil wudhu untuk shalat berjama’ah di mushalla yang di imami oleh Bapak Herwanto atau yang lebih akrab disapa dengan Ka Wanto. Setelah selesai shalat, beliau menyampaikan nasehat. Seusai kami bersalam-salaman sambil membaca shalawat, kami makan malam di lantai dasar bangunan yang bernama “INTAN”. Sungguh seru malam itu waktu makan malam bersama keluarga besar MAN KELUA.
Waktu makan malam itu, saya dan Anshary melihat beranda Facebook, ternyata Bapak Alfi Khairian dan Bapak H. Daus sedang asyik menonton film Sang Pemimpi di Studio 21 Duta Mall Banjarmasin. Hal itu kami ketahui karena Bapak Alfi Khairian menulis status FB yang menyatakan demikian. Setelah usai makan malam saya bersama seorang teman berjalan menuju luar komplek Balai Diklat ini. Ketika berada di muka gerbang, kami diajak oleh para supir dan dua orang siswa untuk jalan-jalan mengitari kota Banjarbaru dengan mobil dimalam hari. Pertama-tama kami singgah di pasar yang letaknya tidak terlalu jauh dengan Balai Diklat tadi yakni hanya sekitar 500 meter, pasar itu bernama Pasar Ulin karena terletak di Landasan Ulin. Setelah keliling-keliling di pasar tadi kami kembali ke mobil walaupun tanpa ada satu barang pun yang saya beli karena dompet tertinggal di kamar.
Kemudian kami keliling-keliling di sekitar Bandara Syamsudinnor hingga akhirnya kami berhenti di sebuah warung yang menjual aneka macam juice buah segar. Teman saya ada yang minum juice sirsak sedangkan saya minum juice alpukat. Rasanya sangat enak dan menyegarkan tubuh, setelah itu kami kembali ke Balai Diklat.
Alangkah terkejutnya kami, karena dari kejauhan terlihat banyak orang yang berhamburan di halaman Balai Diklat. Ternyata banyak siswi yang kesurupan, diantaranya ada tiga orang teman sekelas saya yang bernama Herdiya anggini, Linda wati, dan Rizka damayanti. Situasi sempat memanas dengan banyaknya siswi yang kesurupan disertai dengan teriakannya yang lumayan nyaring. Situasi mulai tenang setelah sekitar satu jam kemudian.
Jam di hp sudah menunjukkan pukul 00:30, tapi saya belum juga bisa memejamkan mata untuk tidur. Tetapi pada jam empat kami sudah terbangun, setelah bangun semua para penghuni kamar nomor 21 yaitu : saya, Liansyah anshary, Ali, dan Nidi rahman, kami langsung mandi bergiliran. Walaupun subuh itu terasa begitu dingin dan menggigil serta seakan-akan angin dan hujan gerimis subuh itu meretakkan tulang. Tapi kami tetap ke Mushalla untuk shalat subuh berjamaah. Setelah itu kami kembali ke kamar masiing-masing untuk membereskan semua barang-barang yang dibawa supaya tidak ada yang tertinggal. Ketika hari sudah mulai terang, kami sarapan di ruang makan sambil berbincang-bincang dengan teman perempuan yang sekelas, sehingga suasana pun menjadi hangat. Selanjutnya kami mengambil barang yang ada di kamar dan dibawa ke mobil. Perjalanan dimulai dari Balai Diklat ini menuju Jembatan Barito pada pukul tujuh dengan diiringi hujan gerimis.
5. Jembatan Barito
Jembatan Barito adalah jembatan yang menyeberangi sungai barito. Jembatan ini memiliki panjang 1.082 meter yang melintasi sungai barito selebar 800 meter dan pulau kecil (Pulau Bakut) selebar 200 meter. Jembatan ini terdiri dari jembatan utama sepanjang 902 meter dan jembatan pendekat 180 meter, dengan lebar 10,37 meter. Ketinggian jembatan utama 15-18 meter, sehingga bisa digunakan untuk lintas perairan. Jembatan ini pertama kali diresmikan oleh Presiden Soeharto pada tanggal 27 april 1997. Jembatan ini dirancang oleh seorang arsitektur yang bernama Ricord Woods yang dibantu oleh pekerja sekitar 700-an orang.
Jembatan Barito sebagai penghubung Trans Kalimantan seharusnya dipelihara dan dikemas dengan sebaik mungkin sebagai tujuan wisata dan mempercantik keelokan jembatan seperti pemasangan lampu hias di sepanjang jembatan, adanya Resort atau lainnya yang mendukung sebagai objek wisata sehingga Jembatan Barito menjadi salah satu kebanggan masyarakat Banjar dan akan menghasilkan pendapatan untuk daerah.
Kami tiba di sana sekitar pukul 09:10. Setelah supir memarkir mobilnya, kami langsung menginjakkan kaki ke jembatan terpanjang di Kalimantan Selatan ini. Di atas jembatan yang kami lakukan hanyalah berfoto-foto dengan teman-teman dari berbagai kelas serta melihat keindahan alam dari atas sungai terluas di Indonesia ini.
Ternyata ketika berada di tengah jembatan, saya bertemu dengan Bapak H. Halim, S.Kom. kemudian saya, beliau dan teman-teman lain ikut berfoto juga. Setelah itu kami masuk ke mobil dan melanjutkan perjalan ke Mesjid Sabilal Muhtadin.
6. Mesjid Raya Sabilal Muhtadin
Sabilal Muhtadin nama untuk Mesjid Raya Banjarmasin ini adalah sebagai penghormatan dan penghargaan terhadap ulama besar yang alim. Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari (1710-1812 M) yang selama hidupnya memperdalam dan mengembangkan agama islam di Kerajaan Banjar atau Kalsel sekarang ini. Ulama besar ini tidak tidak saja dikenal di seluruh Nusantara, akan tetapi dikenal dan dihormati melewati batas negeri sampai ke Malaka, Filipina, Bombay, Makkah, Madinah, Istanbul dan Mesir. Mesjid ini dibangun di atas tanah yang luasnya 100.000 m2, letaknya sangat strategis yakni di tengah kota Banjarmasin dan tepat di seberangan Kantor Gubernur Kalimantan Selatan.



Bangunan-bangunan yang ada di sekitar Mesjid Sabilal Muhtadin antara lain :
1. Tempat musyawarah Majelis Ulama Kalimantan Selatan dan pengajian agama yang diadakan setiap 2 kali seminggu (malam sabtu dan pagi minggu) yang dipimpin oleh K.H. Ahmad Bakeri.
2. Perpustakaan Islam dan pusat Kegiatan Umat Islam Kalimantan Selatan.
3. Radio Dakwah Sabilal Muhtadin yang menyiarkan berbagai kegiatan keagamaan dan peringatan hari besar.
Kami sampai di mesjid ini ketika sudah hampir tengah hari. Ternyata mesjid ini sedang direnovasi, sehingga kami menjadi susah untuk masuk ke dalam ruang induk mesjid. Ketika teman-teman lain sedang asyik berkeliling di sekitar area mesjid, saya dan Liansyah Anshary malah pergi ke seberang jalan untuk menghampiri sebuah tempat yang sering disebut oleh anak muda Banjarmasin dengan sebutan PJ atau Pantai Jodoh. Sayang sekali saat itu sedang hujan gerimis sehingga kammi tidak bisa terlalu lama disana. Pantai Jodoh ini terletak di tepi sungai Martapura yang dibuat oleh Pemkot Banjarmasin. Kami kembali menuju mobil dan kemudian kami makan siang di samping mobil. Setelah selesai makan, kami membersihkan sisa-sisa sampah bekas kami makan tadi. Selanjutnya kami menuju Duta Mall melewati Jembatan Dewi.
7. Duta Mall Banjarmasin
Duta Mall merupakan fasilitas kota yang mampu memberikan suasana yang aman dan nyaman dalam berbelanja maupun berekreasi yang berada diatas tanah seluas 42.000 m2. Duta Mall berada di pusat kota dan menjadi pusat perkembangan bisnis dengan akses langsung dari Jl. A. Yani KM 2. Kawasan ini merupakan kawasan perdagangan dan perkantoran.
Ini berarti pasar yang sangat potensial dan strategis untuk berinvestasi. Fasilitas dan keunggulan Duta Mall merupakan satu-satunya Pusat perbelanjaan modern, pertama, terbesar, terlengkap dan termegah di pusat kota Banjarmasin. Trade Mall ( Trade Center Mall ) Pertama terbesar, terlengkap dengan hadirnya hypermart dan Diamond Dept. Store, hiburan keluarga Cineplex Studio 21, Toko Buku Gramedia, Kharisma, Food Court Tradisional, National dan International, bakery & snack yang dirancang khusus untuk menjangkau seluruh lapisan masyarakat. Di sini juga tersedia Pusat handphone, elektronik, komputer & laptop, pusat perhiasan emas, cindramata dan kerajinan tangan, batik sasirangan, busana muslim, game Amazone, optik melawai, SEIS, International Apotik Farmasi Century, guardian, Boston Drugs, Raysuft dan lain-lain. Lokasi Strategis yang terletak di Jalan Jend. A. Yani KM 2 pusat kota Banjarmasin mudah diakses dari segala penjuru kota dari dalam maupun luar kota. Sarana gedung parkir yang sangat luas, bisa menampung 1,500 unit mobil dan 5,000 unit sepeda motor yang dikelola secara professional dan terjamin keamanannya.
Kami tiba di pusat perbelanjaan terbesar dan termegah di kalimantan Selatan ini sekitar pukul 12:00. Dalam pusat perbelanjaan ini kami berjalan dari satu tempat ke tempat lainnya. Tak terasa waktu sudah hampir jam dua siang, karena terlalu asyik dengan keramaian di mall ini. Kemudian kami keluar menuju tempat parkir mobil. Kami menunggu Bapak Alfi Khairian yang masih berada di dalam mall sambil duduk samping mobil. Ternyata kami melihat sebuah konstuksi bangunan berlantai 8. Bangunan itu menurut khabarnya adalah Fakultas Ilmu Perawat UNLAM Banjarmasin. Setelah semua orang terkumpul, kami pun menuju tempat terakhir dalam acara studi lapangan ini. Dalam perjalanan menuju Martapura, hampir semua orang tertidur dalam mobil kami kecuali supir.
8. Mesjid Al-Karamah
Martapura merupakan ibukota kabupaten Banjar yang berada di provinsi Kalimatan Selatan. Martapura merupakan sebuah kota yang sangat terkenal baik didalam negeri maupun diluar negeri berkat intannya. Tepat sebelah pasar intan terkenal tersebut berdiri megah sebuah bangunan masjid. Dan masjid ini masih diklaim terbesar di Kalimantan Selatan. Masjid ini dinamai seperti yang tertulis dengan huruf arab di depannya yaitu Masjid Al Karomah. Arsitektur masjidnya bergaya masjid-masjid di Arab. Masjid ini memiliki kubah yang unik dengan warna-warna di puncaknya, dan juga dilengkapi dengan sebuah menara tinggi dengan arsitektur yang unik juga. Dan arsitektur di dalam masjidnya tidak kalah dengan penampilan luarnya. Ademnya situasi masjid didalam tidak menggambarkan jika diluar panas terik. O iya, untuk mencapai masjid ini gampang sekali karena hanya perlu ± 1 jam perjalanan dari kota Banjarmasin dan hanya ½ jam jika dari bandara Syamsudin Noor, Banjarbaru. Dan masjid ini juga berada di pinggir jalan trans Kalimantan ruas Kalsel-Kaltim dan berada di pusat kota Martapura. Jika kita berjalan di halaman Mesjid ini, maka kita akan menemukan banyak orang-orang yang menjajakan berbagai macam makanan. Diantaranya yaitu kue Kelalapon yang merupakan makanan khas daerah Kabupaten Banjar ini.
Inilah tempat terakhir yang kami kunjungi dalam acara studi lapangan ini. Kami tiba di tempat ini sekitar jam tiga sore. Sesampainya di sini, kami langsung mengambil wudhu dan kemudian melaksanakan shalat dzuhur dan ashar yang digabung serta diringkas jumlah raka’atnya. Kami dipimpin oleh Bapak Alfi Khairian selaku imam shalat.
Setelah selesai shalat, saya pun melihat-lihat ruangan mesjid yang indah dan sangat luas ini. Ternyata di tengah-tengah mesjid ini terdapat sebuah tempat keramat. Ceritanya seperti ini, dulunya ada orang alim yang sering atau bahkan selalu beribadah di bagian mesjid itu. Ketika mesjid itu ingin direnovasi, ternyata tempat bekas orang alim tadi tidak bisa dihancurkan. Sehingga sekarang ini bekas tempat itu dilapisi kaca yang tebal supaya dapat dilihat oleh orang-orang. Seusai itu kami berjalan ke sebuah pasar di samping mesjid ini yang beranama Pasar Batuah. Ternyata harga barang-barang di sini tergolong murah. Ada beberapa teman saya yang membeli pakaian di pasar kota intan ini. Ketika hampir ashar, kami kembali menuju mobil untuk melanjutkan perjalanan pulang ke rumah.
C. PERJALANAN PULANG
Kami betolak dari Mesjid Al Karomah Martapura pada jam setengah empat sore. Sejak dari Martapura, saya tidur dalam mobil sampai berhenti di sebuah warung makan dekat Pantai Hambawang pada pukul enam sore. Perjalanan dilanjutkan setelah kami selesai makan. Ketika waktu magrib tiba, kami singgah di sebuah langgar. Setelah itu kami melanjutkan perjalaan lagi sambil mendengarkan musik. Kami terus menerus memutar lagu Project Pop dengan judul “Batal Kawin”. Ternyata ada teman kami yang tersinggung dengan lagu itu, hingga akhirnya terjadi adu mulut, tapi untungnya tak terjadi perkelahian fisik. Tak terasa saya turun dari mobil karena telah sampai di rumah yang beralamat jalan A. Yani Km. 8 No. 36, RT : 02, Pugaan, Kecamatan Pugaan, Tabalong, Kalsel pada pukul 19:45. Teman-teman lainnya ada yang berhenti di muka rumahnya dan ada juga yang berhenti di sekolah yang kemudian mereka dijemput oleh keluarganya. Alhamdulillah kami semua selamat sepanjang perjalanan.


BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Perjalanan yang kami tempuh selama dua hari yaitu pada hari rabu dan kamis 6 sampai 7 januari 2010, kami mengunjungi barbagai tempat yaitu :
- Makam Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari
- Makam KH. Zaini bin Abdul Ghani
- Museum Lambung Mangkurat
- Balai Diklat
- Jembatan Barito
- Mesjid Raya Sabilal Muhtadin
- Duta Mall Banjramasin
- Mesjid Al-Karomah Martapura
B. SARAN
Siswa-siswi yang akan Studi Lapangan hendaknya :
1. Sebelum berangkat hendaknya memperhatikan perlengkapan yang akan dibawa.
2. Mematuhi peraturan-peraturan di tempat yang kita dikunjungi.
3. Menjaga kebersihan di tempat yang kita dikunjungi.
4. Menghargai benda-benda di tempat yang kita dikunjungi.
5. Semua pelajar harus mengikuti kegiatan ini dengan sungguh-sungguh agar tujuan yang diinginkan dapat tercapai dengan sebaik mungkin.


DAFTAR RIWAYAT HIDUP
Nama : HERIADI AL HIFNI
Tempat, Tanggal Lahir : Pugaan, 15 oktober 1991
Jenis Kelamin : Laki-laki
Alamat : Jalan A.Yani km.8 no: 36, Rt: 02 Pugaan, Kec Pugaan, Kab Tabalang, Kalimantan Selatan.
Agama : Islam
Nama dan Pekerjaan Orang Tua
a. Ayah : H. Ahmad Syahrani (wiraswasta)
b. Ibu : Hj. Noorhanisah (wiraswasta)
Pendidikan : - TK Hidayah Pugaan
- SDN 1 Pugaan
- SMPN 1 Pugaan
Pengalaman : Segala sesuatu yang telah terjadi itu merupakan pengalaman tersendiri bagi saya.
Hobi : Membaca, mendengar musik, dll.
Cita-cita : Ingin menjadi orang yang bertaqwa kepada Allah dengan sebenar-benarnya dan berguna bagi Agama, Bangsa, dan Negara.
Demikian daftar riwayat hidup ini dibuat dengan sebenar-benarnya untuk dapat diketahuui seperlunya.
Kelua, Februari 2010
Penulis

HERIADI AL HIFNI

Read More
Heriadi al hifni 08 Januari 2010 0 komentar

02 SEPTEMBER 2009
Syekh Muhammad
Arsyad al-Banjari, Ulama
Besar dari Kalimantan
Selatan
Nama Syekh Muhammad Arsyad
Al Banjari hingga kini masih
melekat di hati masyarakat
Martapura, Kalimantan Selatan,
meski putra Banjar kelahiran
Desa Lok Gabang, 19 Maret 1710
M, itu telah meninggal sejak 1812
M silam. Ia meninggalkan banyak
jejak dalam bentuk karya tulis di
bidang keagamaan. Karya-
karyanya bak sumur yang tak
pernah kering untuk digali
hingga generasi kini. Tak
mengherankan bila seorang
pengkaji naskah ulama Melayu
berkebangsaan Malaysia
menjulukinya sebagai ‘Matahari
Islam Nusantara’. ‘Matahari’ itu
terus memberikan pencahayaan
bagi kehidupan umat Islam.
Syekh Muhammad Arsyad Al-
Banjari, tulis situs wikipedia,
adalah pelopor pengajaran
Hukum Islam di Kalimantan
Selatan. Ia sempat menuntut
ilmu-ilmu agama Islam di
Mekkah. Sekembalinya ke
kampung halaman, hal pertama
yang dikerjakannya adalah
membuka tempat pengajian
(semacam pesantren) bernama
Dalam Pagar.
Kisah tempat pengajian ini
diuraikan dalam buku seri
pertama Intelektual Pesantren:
Potret Tokoh dan Cakrawala
Pemikiran di Era Pertumbuhan
Pesantren, terbitan Diva Pustaka,
Jakarta. Mulanya, tulis buku itu,
lokasi ini berupa sebidang tanak
kosong yang masih berupa
hutan belukar pemberian Sultan
Tahmid Allah, penguasa
Kesultanan Banjar saat itu. Syekh
Arsyad menyulap tanah tersebut
menjadi sebuah perkampungan
yang di dalamnya terdapat
rumah, tempat pengajian,
perpustakaan, dan asrama para
santri.
Sejak itu, kampung yang baru
dibuka tersebut didatangi oleh
para santri dari berbagai pelosok
daerah. Kampung baru ini
kemudian dikenal dengan nama
kampung Dalam Pagar. Di situlah
diselenggarakan sebuah model
pendidikan yang
mengintegrasikan sarana dan
prasarana belajar dalam satu
tempat yang mirip dengan model
pesantren. Gagasan Syekh
Muhammad Arsyad ini
merupakan model baru yang
belum ada sebelumnya dalam
sejarah Islam di Kalimatan masa
itu.
Pesantren yang dibangun di luar
kota Martapura ini bertujuan
untuk menciptakan lingkungan
yang kondusif bagi proses
belajar mengajar para santri.
Selain berfungsi sebagai pusat
keagamaan, di tempat ini juga
dijadikan pusat pertanian. Syekh
Muhammad Arsyad bersama
beberapa guru dan muridnya
mengolah tanah di lingkungan
itu menjadi sawah yang
produktif dan kebun sayur, serta
membangun sistem irigasi untuk
mengairi lahan pertanian.
Tidak sebatas membangun
sistem pendidikan model
pesantren, Syekh Muhammad
Arsyad juga aktif berdakwah
kepada masyarakat umum, dari
perkotaan hingga daerah
terpencil. Kegiatan itu pada
akhirnya membentuk perilaku
religi masyarakat. Kondisi ini
menumbuhkan kesadaran untuk
menambah pengetahuan agama
dalam masyarakat.
Dalam menyampaikan ilmunya,
Syekh Muhammad Arsyad
sedikitnya punya tiga metode.
Ketiga metode itu satu sama lain
saling menunjang. Selain dengan
cara bil hal, yakni keteladanan
yang direfleksikan dalam tingkah
laku, gerak gerik, dan tutur kata
sehari-hari yang disaksikan
langsung oleh murid-muridnya,
Syekh Muhammad Arsyad juga
memberikan pengajaran dengan
cara bil lisan dan bil kitabah.
Metode bil lisan dengan
mengadakan pengajaran dan
pengajian yang bisa disaksikan
diikuti siapa saja, baik keluarga,
kerabat, sahabat, maupun handai
taulan, sedangkan metode bil
kithabah menggunakan
bakatnya di bidang tulis menulis.
Dari bakat tulis menulisnya, lahir
kitab-kitab yang menjadi
pegangan umat. Kitab-kitab
itulah yang ia tinggal setelah
Syekh Muhammad Arsyad utup
usia pada 1812 M, di usia 105
tahun. Karya-karyanya antara
lain, Sabilal Muhtadin, Tuhfatur
Raghibiin, Al Qaulul Mukhtashar,
di samping kitab Ushuluddin,
kitab Tasauf, kitab Nikah, kitab
Faraidh, dan kitab Hasyiyah
Fathul Jawad. Karyanya paling
monumental adalah kitab Sabilal
Muhtadin yang kemasyhurannya
tidak sebatas di daerah
Kalimantan dan Nusantara, tapi
juga sampai ke Malaysia, Brunei,
dan Pattani (Thailand Selatan).
Anak Cerdas dari Lok Gabang
Sekali waktu, Sultan Kerajaan
Banjar, Sultan Tahmidullah,
berkunjung ke kampung-
kampung yang ada di
wilayahnya. Tiba kampung Lok
Gabang, ia terkesima melihat
lukisan yang indah. Setelah
bertanya, dia mengetahui
pelukisnya bernama Muhammad
Arsyad, seorang anak berusia
tujuh tahun. Tertarik dengan
kecerdasan dan bakat anak kecil
itu, Sultan berniat mengasuhnya
di istana.
Mulanya, Abdullah dan Siti
Aminah, kedua orangtua Arsyad,
enggan melepas anak sulungnya
itu. Tapi atas pertimbangan masa
depan si buah hati, keduanya
pun menganggukkan kepala. Di
istana, Arsyad kecil bisa
membawa diri, selalu
menunjukkan keluhuran budi
pekertinya. Sifat-sifat terpuji itu
membuat ia disayangi warga
istana. Bahkan, Sultan
memperlakukannya seperti anak
kandung.
Beranjak dewasa, Arsyad
dikawinkan dengan Bajut,
seorang perempuan yang
solehah. Ketika Bajut tengah
mengandung anak pertama,
terlintas di benak Arsyad untuk
menuntut ilmu di Tanah Suci
Mekkah. Sang istri tidak
keberatan demi niat suci suami,
meski dengan perasaan berat.
Setelah mendapat restu Sultan,
Arsyad berangkat untuk
mewujudkan cita-citanya.
Begitulah sepenggal kisah
perjalanan hidup Syekh
Muhammad Arsyad Al Banjari,
ulama besar kelahiran Lok
Gabang, Martapura, 19 Maret
1710 M. Ia adalah pengarang
Kitab Sabilal Muhtadin yang
banyak menjadi rujukan Hukum
Fiqih di Asia Tenggara.
Perdalam Ilmu Agama
Di Tanah Suci, Arsyad
memperdalam ilmu agama. Guru-
gurunya, antara lain Syekh
Athoillah bin Ahmad al Mishry, al
Faqih Syekh Muhammad bin
Sulaiman al Kurdi, dan al 'Arif
Billah Syekh Muhammad bin Abd
Karim al Samman al Hasani al
Madani. Namanya terkenal di
Mekkah karena keluasan ilmu
yang dimiliki, terutama ilmu
Qiraat. Ia bahkan mengarang
kitab Qiraat 14 yang bersumber
dari Imam Syatibi. Uniknya, setiap
juz kitab tersebut dilengkapi
dengan kaligarafi khas Banjar.
Menurut riwayat, selama belajar
di Mekkah dan Madinah, Syekh
Muhammad Arsyad Al Banjari
belajar bersama tiga orang
Indonesia lainnya: Syekh Abdul
Shomad al Palembani
(Palembang), Syekh Abdul Wahab
Bugis, dan Syekh Abdul Rahman
Mesri (Betawi). Mereka berempat
dikenal dengan ‘Empat Serangkai
dari Tanah Jawi’ yang sama-sama
menuntut ilmu di al Haramain al
Syarifain. Belakangan, Syekh
Abdul Wahab Bugis kemudian
menjadi menantunya karena
kawin dengan anak pertama
Syekh Muhammad Arsyad Al
Banjari.
Setelah lebih dari 30 tahun
menuntut ilmu, timbul hasratnya
untuk kembali ke kampung
halaman. Sebelum sampai di
tanah kelahirannya, Syekh Arsyad
singgah di Jakarta. Ia menginap
di rumah salah seorang
temannya waktu belajar di
Mekkah. Bahkan, menurut
kisahnya, Syekh Muhammad
Arsyad Al Banjari sempat
memberikan petunjuk arah kiblat
Masjid Jembatan Lima di Jakarta
sebelum kembali ke Kalimantan.
Ramadhan 1186 H bertepatan
dengan 1772 M, Syekh Arsyad
tiba di kampung halamannya di
Martapura, pusat Kerajaan Banjar
masa itu. Raja Banjar, Sultan
Tamjidillah, menyambut
kedatangannya dengan upacara
adat kebesaran. Segenap rakyat
mengelu-elukannya sebagai
seorang ulama ‘Matahari Agama’
yang cahayanya diharapkan
menyinari seluruh Kerajaan
Banjar.
Syekh Arsyad aktif melakukan
penyebaran agama Islam di
Kalimantan. Tak hanya dalam
bidang pendidikan dengan
mendirikan pesantren lengkap
sarana dan prasarananya,
termasuk sistem pertanian untuk
menopang kehidupan para
santrinya, tapi juga berdakwah
dengan mengadakan pengajian,
baik di kalangan istana maupun
masyarakat kelas bawah.
Lebih 40 tahun Syekh Arsyad
melakukan penyebaran Islam di
daerah kelahirannya, sebelum
maut menjemputnya. Dia
meninggal pada 1812 M di usia
105 tahun. Sebelum wafat, dia
sempat berwasiat agar jasadnya
dikebumikan di Kalampayan bila
sungai dapat dilayari atau di
Karang Tengah, tempat istrinya,
Bujat, dimakamkan bila sungai
tidak bisa dilayari. Namun karena
saat meninggal air sedang surut,
maka ia dikebumikan
Kalampayan, Astambul, Banjar,
Kalimantan Selatan. Di daerah
yang terletak sekitar 56 km dari
kota Banjarmasin itulah jasad
Datuk Kalampayan – panggilan
lain anak cerdas kelahiran Lok
Gabang – ini dikebumikan.
Sabil Al-Muhtadin
Alasan utama penulisan kitab ini
oleh Syekh Muhammad Arsyad al-
Banjari, karena adanya kesulitan
umat Islam Banjar dalam
memahami kitab-kitab fikih yang
ditulis dalam bahasa Arab.
Buku-buku yang membahas
masalah fikih (ibadah shalat,
zakat, puasa, dan haji) di
Indonesia cukup banyak.
Jumlahnya bisa mencapai ribuan,
baik yang ditulis ulama asal
Timur Tengah, ulama Nusantara,
maupun para ilmuwan
kontemporer yang memiliki
spesifikasi tentang keilmuan
dalam bidang fikih atau hukum
Islam.
Dari berbagai buku-buku fikih
yang ada, salah satunya adalah
kitab Sabil al-Muhtadin li al-
Tafaqquh fi Amr Al-Din (Jalan
bagi orang-orang yang
mendapat petunjuk agar menjadi
faqih (alim) dalam urusan agama.
Kitab ini ditulis dalam bahasa
Arab-Melayu dan merupakan
salah satu karya utama dalam
bidang fikih bagi masyarakat
Melayu. Kitab ini ditulis setelah
Syekh Muhammad Arsyad
mempelajari berbagai kitab-kitab
fikih yang ditulis para ulama
terdahulu, seperti kitab Nihayah
al-Muhtaj yang ditulis oleh Syekh
al-Jamal al-Ramly, kitab Syarh
Minhaj oleh Syekh al-Islam
Zakaria al-Anshary, kitab Mughni
oleh Syekh Khatib Syarbini, kitab
Tuhfah al-Muhtaj karya Syekh
Ibnu Hajar al-Haitami, kitab
Mir ’atu al-Thullab oleh Syekh
Abdurrauf al-Sinkili, dan kitab
Shirat al-Mustaqim karya
Nurruddin al-Raniri.
Selain itu, ada alasan utama yang
dilakukan Syekh Muhammad
Arsyad al-Banjari saat menulis
kitab ini. Sebuah sumber
menyebutkan, pada awalnya,
keterbatasan (kesulitan) umat
Islam di Banjar (Melayu) dalam
mempelajari kitab-kitab fikih
yang berbahasa Arab. Maka itu,
masyarakat Islam di Banjar
berusaha mempelajari fikih
melalui kitab-kitab berbahasa
Melayu. Salah satunya adalah
kitab Shirat al-Mustaqim yang
ditulis Syekh Nurruddin al-Raniri.
Kitab Shirat al-Mustaqim-nya al-
Raniri ini juga ditulis dalam
bahasa Arab-Melayu yang lebih
bernuansa bahasa Aceh. Namun,
hal itu juga menimbulkan
kesulitan bagi masyarakat Islam
Banjar untuk mempelajarinya.
Oleh karena itu, atas permintaan
Sultan Banjar (Tahmidullah),
Syekh Muhammad Arsyad al-
Banjari kemudian menuliskan
sebuah kitab fikih dalam bahasa
Arab-Melayu yang lebih mudah
dipahami masyarakat Islam
Banjar.
Dalam mukadimah kitab Sabil al-
Muhtadin, Syekh Muhammad
Arsyad al-Banjari menyatakan
bahwa karya ini ditulis pada
1193/1779 M atas permintaan
Sultan Tahmidullah dan
diselesaikan pada 1195/1781 M.
Secara umum, kitab ini
menguraikan masalah-masalah
fikih berdasarkan mazhab Syafi’i
dan telah diterbitkan oleh Darul
Ihya al-Kutub al-Arabiyah. Kitab
Sabil al-Muhtadin ini terdiri atas
dua jilid.
Seperti kitab fikih pada
umumnya, kitab Sabil al-Muhtadin
ini juga membahas masalah-
masalah fikih, antara lain, ibadah
shalat, zakat, puasa, dan haji.
Kitab ini lebih banyak
menguraikan masalah ibadah,
sedangkan muamalah belum
sempat dibahas. Walaupun
begitu, kitab ini sangat besar
andilnya dalam usaha Syekh
Arsyad menerapkan hukum Islam
di wilayah Kerajaan Banjar sesuai
anjuran Sultan Tahmidullah yang
memerintah saat itu.
Kontekstual
Menurut Najib Kailani,
koordinator Bidang Media dan
Budaya, Lembaga Kajian Islam
dan Sosial (LKiS) Yogyakarta,
dalam artikelnya yang berjudul
"Ijtihad Zakat dalam kitab Sabil al-
Muhtadin," menyatakan,
” Meskipun ditulis pada abad
ke-18, terdapat banyak sekali
pemikiran cemerlang Syekh
Arsyad dalam kitab ini yang
sangat kontekstual di era
sekarang. Satu di antara gagasan
brilian di dalam kitab Sabil al-
Muhtadin adalah pandangan
beliau tentang zakat. ”
Dicontohkan Kailani, pada pasal
tentang orang-orang yang
berhak menerima zakat
(mustahik), terdapat pandangan
dan pemikiran Syekh Muhammad
Arsyad yang sangat progresif
dan melampaui pemikiran
ilmuwan pada zaman itu.
Syekh Arsyad al-Banjari
menyatakan, ”Fakir dan miskin
yang belum mampu bekerja baik
sebagai pengrajin maupun
pedagang, dapat diberikan zakat
sekira cukup untuk
perbelanjaannya dalam masa
kebiasaan orang hidup. Misalnya,
umur yang biasa ialah 60 tahun.
Kalau umur fakir atau miskin itu
sudah mencapai 40 tahun dan
tinggal umur biasa (harapan
hidup) 20 tahun. Maka, diberikan
zakat kepadanya, sekira cukup
untuk biaya hidup dia selama 20
tahun. ”
Dan, yang dimaksud dengan
diberi itu bukan dengan emas
maupun perak yang cukup untuk
masa itu, tetapi yang bisa
dipergunakan untuk membeli
makan dalam masa yang
disebutkan di atas. Maka,
hendaklah dibelikan dengan
zakat tadi dengan izin Imam,
seperti kebun yang sewanya
memadai atau harga buahnya
untuk belanjanya di masa sisa
umur manusia secara umum
agar ia menjadi mampu dengan
perantaraan zakat. Lalu, kebun
itu dimiliki dan diwariskannya
kepada keluarganya karena
kemaslahatannya kembali
kepadanya dan kepada mustahik
yang lain. Inilah tentang fakir dan
miskin yang tidak mempunyai
kepandaian dan tidak bisa
berdagang.
Menurut Kailani, pandangan
Syekh Muhammad Arsyad al-
Banjari ini, tampak telah
melampaui zamannya. ”Sangat
jelas bahwa pijakan gagasan ini
adalah konsep kemaslahatan
umum (maslahah al-ammah), di
mana zakat tidak sekadar
dimaknai sebagai pemberian
karitatif, lebih jauh ia merupakan
satu mekanisme keadilan sosial,
yaitu supaya harta tidak hanya
terputar di kalangan orang kaya
semata, ” ujar Kailani.
”Beliau memberi contoh dengan
pengelolaan kebun yang
manfaatnya bisa menghidupi
keluarga sang penerima zakat
dan seterusnya, sampai anak
cucunya dan penerima zakat
lainnya. Pandangan ini tampak
sejalan dengan konsep negara
kesejahteraan (welfare-state) di
Eropa, di mana negara menjamin
kesejahteraan warga negaranya
yang belum memperoleh
pekerjaan layak, ” tambahnya.
Beberapa ijtihad zakat sudah
digulirkan para pemikir Muslim
kontemporer, seperti Yusuf al-
Qaradhawi tentang zakat profesi
atau Masdar Farid Mas ’udi
mengenai zakat yang
ditransformasikan menjadi pajak
dan lain sebagainya. Mengangkat
kembali gagasan Syekh Arsyad
dalam konteks kini, paling tidak
mendorong kembali upaya-
upaya reinterpretasi kontekstual
makna zakat dalam kehidupan
Muslim kontemporer.
Berdasarkan contoh di atas, kata
Kailani, tentunya sangat penting
bagi umat Islam di Indonesia
untuk menelisik ulang khazanah
tradisi Islam Nusantara yang
ditulis oleh ulama-ulama besar
sejak abad ke-13 hingga ke-20,
saat banyak gagasan cemerlang
yang terlontar melampaui
zamannya.
Seperti diketahui, kitab Sabil al-
Muhtadin ini tak hanya menjadi
referensi ilmu fikih bagi umat
Islam di Banjar (Kalimantan
Selatan), tetapi juga bagi
masyarakat Melayu lainnya,
seperti Brunei Darussalam,
Malaysia, hingga Thailand.
”Sudah saatnya kita membuang
sikap apriori terhadap tradisi
klasik, terutama karya-karya
ulama Nusantara sebagai
ketinggalan zaman dan tidak
sesuai dengan problem kekinian.
Dari contoh gagasan Syekh
Arsyad di atas, menyadarkan kita
betapa banyak kekayaan
gagasan Islam Nusantara yang
bisa dikembangkan kembali
untuk konteks keindonesiaan
sekarang, ” kata Kailani.
Hal ini sejalan dengan gagasan
dan pemikiran yang dilakukan
oleh Departemen Agama yang
kini tengah mentahkik karya-
karya ulama Nusantara.
Tujuannya, agar umat Islam
Indonesia mengenal dengan baik
ulama-ulama Nusantara dan
karya-karyanya.

Read More
Heriadi al hifni 18 Desember 2009 0 komentar


KOTAK ~ ROCK NEVER DIES




Intro : Em G C D 2x Em
G C D Em
Nada mu telah tercipta sebelum aku yang tercipta
G C D Em
Semasa engkau di dunia memperkaya dalam karya

Interlude : C D C D

Reff
Em G
Rock never dies
C D
Sampai kapanpunkan ada
Em G
Rock never dies
C D
Hingga sampai akhir dunia

Interlute : Em G C D Em

G C D Em
Wahai engkaulah jiwa-jiwa warnailah kehidupan
G C D Em
Ungkapkan semua suka cita lewat alunan irama

Interlute : C D C D
Balik ke Reff

Read More
Heriadi al hifni 0 komentar Label:


KOTAK ~ BAYANG ABADI



Intro : D
Bm A
Hening malam ku sendiri
F# Bm
Bintang bulan ku pandangi
E A D
Hari-hari ku lewati

Bm A
Kenangan indah dengan mu
F# Bm
Masih terasa di hati
E A
Rasa sedih tak bertepi
Bm C#m D E
Tak ada cinta sejati didunia ini

F#m D A
Mungkin kau tercipta tuk pergi
F#m D E
Meski bayangmu dibenak abadi
F#m D C#m D
Saat ini dirimu telah pergi
A D E A
Berdiri menanti kau kembali

interlute : D E A

F#m D A
Mungkin kau tercipta tuk pergi
F#m D E
Meski bayangmu dibenak abadi
F#m D C#m D
Saat ini dirimu telah pergi
A D A D
Berdiri menanti, Berdiri menanti
A D E A
Berdiri menanti kau kembali

Interlute : D E A

A D
Bayangmu kan abadi
E A
Meski kau telah pergi
D
Disini ku berdiri
E A
Menanti kau kembali

Read More
Heriadi al hifni 0 komentar Label:
Heriadi al hifni 0 komentar Label:




1. Sejarah Singkat Berdirinya Madrasah Aliyah Negeri Kelua


Masyarakat di Kecamatan Kelua yang hampir 100% beragama Islam sejak lama mendambakan adanya lembga pendidikan. Sekitar tahun 1900-an sudah banyak anggota masyarakat yang berkeinginan menuntut ilnu agama, namun karena ketika itu belum ada lembaga pendidikan agama Islam maka mereka memilih ke luar daerah, yaitu ke Amuntai yang sejak tahun 1925 sudah berdiri Arabische School yang dikenal dengan Normal Islam serta ke Barabai yang sejak tahun 1932 berdiri Madrasah Diniyah Islamiyah dan pada tahun 1948 berkembang menjadi Madrasah Mu’alimin Barabai.

Namun karena daerah tersebut saat itu masih dirasa relatif jauh dari kelua karena sarana dan pasarana transportasi yang terbatas, maka masyarakat tetap berkeinginan agar Kelua memiliki madrasah tersendiri. Maka sejaktahun 1951 berdirinya Madrasah Sinar Islam yang berlokasi di desa Telaga Itar Kecamatan Kelua Kabupaten Tabalong. Beberapa tokoh pendiri madrasab ini di antaranya H. Nawawi, H. M. Hamdi, H. Astar, H. Bung Mukri, H. Zakaria, H. Tarmidi, dll.

Pada tahun 1960 Madrasah Sinar Islam bcrubah menjadi Pendidikan Guru Agama Persiapan (PGA-P) dan pada tahun 1968 berubah lagi menjadi PGAN 4 tahun. Bagi yang ingln melanjutkan pada umumnya ke Banjarmasin, yaitu ke PGAN 6 tahun Mulawarman. Selanjutnya PGAN 4 tahun berubah lagi menjadi PGAN 6 tahun, yang berlangsung sampai tahun 1979.

Pada tahun 1979 muncul kebijakan pemerintah yang melebur PGAN 6 tahun Kelua menjadi MTsN Kelua dan MAN Kelua, dan kondisi ini tetap berlangsung hingga sekarang. Perubahan status ini disebabkan adanya kebijakan resmi dari pemerintah (Departemen Agama), banyaknya lulusan PGAN 6 tahun yang sudah dikeluarkan dan saat itu belum terangkat sebagai pegawai negeri, dan guru-guur yang sudah diangkat dirasakan sudah mamadai. Perubahan status ini disertai dengan pemindahan lokasi sekolah yang semula di desa Telaga Itar dipindahkan ke Jalan Si Baco desa pari-pari Kecamatan Kelua Kabupaten Tabalong.

Sejak menjadi MAN hingga sekarang sudah 8 (delapan) orang memimpin sekolah ini, sebagaimana dikemukakan dalam tabel berikut :


NAMA KEPALA SEKOLAH PADA MAN KELUA 1979-2008


1 Drs. H. Mukhtar M ~>1979-1981

2 Drs. H. Masrun Amberi ~> 1982-1983

3 Drs. H.M. Zaini ~> 1983-1988

4 Drs. H. Abdul Fatah ~> 1988-1989

5 Drs. H. Sunardi ~> 1989-1993

6 Drs. H. Mukri ~> 1993-1996

7 Drs. H. Yusran Hilmi ~> 1996-2000

8 Drs. H. Zainal Arifin ~> 2000-sekarang

Sumber Data: Dokumen MAN Kelua, 2008

2. Lokasi Sekolah

Sekolah ini berdiri di atas tanah seluas ± 10.027 m2 dengan status tanah milik sendiri dilengkapi Sertifikat Hak Milik. Lokasi sekolatr t€rletak pada batas-batas sebagai berikut:

- Sebelah Utara berbatasan dengan tanah milik masyarakat/pemukiman penduduk;

- Sebelah Selatan berbatasan dengan Jl. Si Baco (Jalan Umum);

- Sebelah Barat berbatasan dengan komplek MTsN Kelua;

- Sebelah Timur Berbatasan dengan pemukiman penduduk.

Lingkungan sekolah masih relatif tenang, jauh dari pusat keramaian. Jarak ibukota Kecamatan Kelua + 2 km. Meskipun pemukiman penduduk sudah semakin ramai, namun suasana pembelajaran tetap tenang dan kondusif.

3. Keadaan Fisik Madrasah Aliyah Negeri Kelua

Madrasah Aliyah Negeri Kelua sebuah lembaga pendidikan Islam yang berlokasi di jalan Jl. Si Baco desa Pari-pari Kecamatan Kelua Kabupaten Tabalong. Memiliki sarana dan fasilitas yang cukup memadai sehingga dapat memenuhi berbagi kebutuhan dalam mengajar. Proses belajar mengajar pada khususnya dan proses mencapai tujuan pendidikan pada umumnya.

Semenjak perubahan PGAN ke MAN Kelua pada tahun 1979, MAN Kelua telah menggunakan bangunan permanent sebagai fasilitas belajar sebanyak 14 kelas dan 4 kelas masih dalam keadaan darurat (semi permanent) yakni bangunan yang didirikantahun 1979. Sarana fisik kondisi gedung Madrasah Aliyah Negeri Kelua bersifat permanen dengan lantai dan dinding beton, beratap genting dan berpagar ulin (kayu besi) di sekelilingnya yang membatasi gedung dengan pemukiman penduduk dan gedung MTs Negeri Kelua

Read More

Pages

Blogroll

Diberdayakan oleh Blogger.

Category List

Followers

Categories

Site Info

Kunjungi terus blog ini, kritik dan saran teman-teman sangat saya butuhkan supaya ke depan nanti blog ini bisa lebih berkembang dengan sebaik-baiknya. Saya juga mengucapkan terima kasih kepada teman-teman semua, tanpa kalian blog ini tidak ada apa-apa. ^_^